MetroNews.co.id, Batam– Ribuan pasang mata tak berkedip. Jalan raya Nagoya, Lubukbaja, Minggu (27/9/2026) pukul 14.00 berubah menjadi lautan warna, suara, dan energi oleh arak-arakan Pawai Khitong yang membuat warga Batam bersorak.
Seorang atraksi Tatung tampil dengan aksi ekstrem, benda tajam di sekitar mulutnya membuat penonton bergidik sekaligus terpukau.
Di sisi lain, sekelompok penari wanita dalam kostum India yang mencolok—baju berwarna-warni, penutup kepala, dan rok lehenga bertingkat—menari lincah sambil mengayunkan kipas merah muda cerah.
Tak jauh dari situ, pria berpakaian serba hitam dengan ikat kepala tradisional mengayunkan cambuk merah panjang, berhadapan dengan penari reog yang mengambil kuda-kuda penuh ketegangan.
Inilah yang membuat Pawai Khitong tahun ini berbeda. Panitia tak hanya menampilkan warisan budaya Tionghoa, tetapi juga memadukannya dengan kesenian dari seluruh penjuru Nusantara.
Budaya Jawa, Melayu, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara hadir dalam satu rangkaian yang dipusatkan di kawasan Bumi Indah, Lubukbaja.
Edy, Sekretaris Pelaksana Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026, menegaskan konsep ini sengaja dirancang agar semua merasa memiliki.
“Jadi bukan hanya kita menampilkan budaya-budaya Tionghoa saja, namun kita melibatkan semua budaya yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Peserta datang dari berbagai titik, termasuk Vihara Cipta Dharma di Sungaipanas dan Vihara Pekong. Seluruh rombongan kemudian menyatu menjadi satu iring-iringan raksasa.
Jam 14.00 menjadi puncak atraksi di area Martabak Har—titik di mana seluruh Khitong bertemu dan memamerkan kehebatannya.
Selain itu, panitia juga menyiapkan kuda lumping, reog, dan berbagai kesenian daerah lain yang membuat penonton tak berhenti bertepuk tangan.
Pawai ini merupakan yang ketiga setelah digelar pada 2022 dan 2024. Setiap tahun konsepnya terus dikembangkan.
Puncaknya pada Minggu malam, seluruh rangkaian ditutup dengan pertunjukan kesenian Indonesia dan pesta kembang api yang memadukan langit Batam dengan warna-warni budaya.
Panitia berharap perpaduan tradisi Khitong dan kekayaan Nusantara, ini bisa tumbuh menjadi agenda budaya yang dikenal luas hingga tingkat nasional.
Sementara warga Batam hari ini sudah merasakan sendiri: ketika budaya bertemu, yang muncul bukan sekadar arak-arakan—tapi kemeriahan yang bikin hati berdebar.
Sumber: Kata Batam
Editor: Wetsi


Komentar