Pemerintah Kota Bandung berencana melakukan pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT) pada tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya revitalisasi dan perluasan sistem transportasi publik di kota kembang. Pembangunan yang akan difokuskan adalah pada jalur khusus atau on corridor yang dirancang untuk memberikan prioritas pergerakan bagi armada BRT, sekaligus diharapkan dapat meminimalkan dampak terhadap arus lalu lintas umum di pusat kota.
Rencana Pengembangan Rute BRT
Saat ini, Kota Bandung baru mengoperasikan dua rute BRT dari total rencana 20 rute yang telah disusun. Sisa 18 rute BRT yang belum beroperasi akan segera menyusul. Pengembangan 18 rute baru ini akan melibatkan pembangunan jalur khusus sepanjang kurang lebih 21 kilometer. Jalur-jalur ini akan dibangun di sejumlah ruas jalan utama yang strategis di pusat Kota Bandung, meniru konsep yang telah diterapkan di kota besar lainnya seperti Jakarta, di mana terdapat lajur khusus yang didedikasikan untuk BRT.
Detail Pengerjaan Fisik Jalur Khusus
Pengerjaan fisik untuk jalur khusus BRT ini mencakup pembangunan halte dan pemasangan separator fisik. Rencananya, proses konstruksi ini akan dimulai pada bulan Februari. Namun, pelaksanaannya masih menunggu proses finalisasi kontrak dengan Kementerian Perhubungan. Pihak Dinas Perhubungan Kota Bandung menargetkan kontrak dapat diselesaikan pada bulan Februari ini, sehingga pengerjaan fisik, baik untuk halte maupun separator, dapat segera dilaksanakan.
Ruas Jalan yang Akan Dilalui Jalur BRT
Beberapa ruas jalan di pusat kota telah diidentifikasi sebagai rute potensial untuk pembangunan jalur khusus BRT on corridor. Jalan-jalan tersebut meliputi:
- Jalan Sudirman
- Jalan Rajawali
- Jalan Pasir Koja
- Jalan Otista
- Jalan Dewi Sartika
- Jalan Banceuy
- Jalan Naripan
- Jalan Ahmad Yani
- Jalan Jakarta
Pemilihan ruas jalan ini didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas, kepadatan lalu lintas, serta potensi jangkauan pelayanan BRT kepada masyarakat.
Antisipasi Dampak dan Strategi Penanganan Kemacetan
Pembangunan jalur BRT on corridor ini diprediksi akan menimbulkan kepadatan lalu lintas di sejumlah titik di pusat Kota Bandung. Menyadari potensi ini, Pemerintah Kota Bandung telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satu strategi utama adalah dengan menyiagakan petugas di lapangan secara lebih intensif. Petugas ini akan bertugas memantau dan mengelola arus lalu lintas, serta memberikan informasi kepada pengguna jalan mengenai perubahan rekayasa lalu lintas yang mungkin diterapkan.
Selain penambahan personel, koordinasi erat dengan pihak kepolisian juga menjadi prioritas. Kolaborasi ini akan mencakup perencanaan dan pelaksanaan rekayasa lalu lintas yang efektif, seperti penutupan sementara ruas jalan tertentu, pengalihan arus, atau penerapan sistem buka-tutup pada persimpangan yang terdampak pembangunan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan gangguan perjalanan dan menjaga kelancaran mobilitas warga sebisa mungkin selama periode konstruksi.
Pemanfaatan Teknologi Canggih dalam Pengaturan Lalu Lintas
Untuk mendukung upaya penanganan kemacetan, Pemerintah Kota Bandung juga berencana menerapkan sistem Intelligent Traffic System (ITS) yang berbasis kecerdasan buatan (AI) pada lampu lalu lintas. Sistem ini dirancang untuk mengoptimalkan durasi lampu hijau berdasarkan volume kendaraan yang terdeteksi. Uji coba sistem ini telah dilakukan sejak tahun sebelumnya. Mekanisme kerjanya adalah lampu lalu lintas dapat secara otomatis mengubah sinyal menjadi hijau apabila terdeteksi antrean kendaraan yang panjang, sehingga membantu memperlancar arus kendaraan di titik-titik rawan kemacetan.
Forum Diskusi Terpadu untuk Perencanaan Jangka Panjang
Menghadapi kompleksitas dampak pembangunan BRT, Dinas Perhubungan Kota Bandung akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) khusus. Forum ini akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas skema penanganan dampak pembangunan secara komprehensif, mencakup strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. FGD yang direncanakan berlangsung pada bulan Februari ini akan menjadi wadah penting untuk menyelaraskan pandangan dan merumuskan solusi terbaik demi kelancaran pembangunan dan kenyamanan masyarakat. Pembahasan akan mencakup berbagai aspek, mulai dari pengaturan lalu lintas, sosialisasi kepada publik, hingga mitigasi dampak ekonomi dan sosial yang mungkin timbul.


Komentar