Beranda / Berita Utama / Amsakar Hadirkan Bundaran Raja Ali Marhum, Ikon Baru Batam di Gerbang Bandara

Amsakar Hadirkan Bundaran Raja Ali Marhum, Ikon Baru Batam di Gerbang Bandara

MetroNews.co.id, Batam– Badan Pengusahaan (BP) Batam, memulai penataan wajah Kota Batam dengan membangun Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V di ruas jalan menuju Bandara Internasional Hang Nadim, Jumat (10/7/2026).

Peletakan batu pertama dipimpin Wali Kota Batam /Kepala BP Batam Amsakar Achmad. Hadir pula Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, jajaran anggota dan deputi BP Batam, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Batam, serta pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.

Bundaran tersebut dirancang sebagai salah satu ikon baru di pintu masuk Kota Batam. Selain mempercantik kawasan menuju bandara, juga memperkuat identitas budaya Batam sebagai daerah tujuan investasi dan pariwisata.

Lembaga Adat Melayu Kota Batam juga berperan dalam penyempurnaan konsep pembangunan. Masukan lembaga tersebut mencakup penamaan hingga desain arsitektur bundaran agar selaras dengan sejarah dan budaya daerah.

Melalui pembahasan bersama, nama yang semula direncanakan sebagai “Bundaran Hang Nadim”, “Layar Terkembang”, diubah menjadi “Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V”, sebagai penghormatan kepada tokoh yang memiliki jejak sejarah penting di Kepulauan Riau.

Ekonomi Naik, Kemiskinan Turun, Air Bersih September Rampung: Ketua RT/RW pun Puas

Dari sisi arsitektur, tugu bundaran mengadopsi bentuk tanjak sebagai simbol kehormatan dan jati diri masyarakat Melayu. Unsur tepak sirih juga dihadirkan sebagai lambang penyambutan tamu yang mencerminkan keramahan budaya Melayu.

Konsep tersebut memperlihatkan upaya menggabungkan pembangunan kota modern dengan pelestarian warisan budaya. Identitas lokal diharapkan tetap hadir di tengah perkembangan Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, dan investasi.

𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗣𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗔𝗣𝗕𝗗
Wali Kota Amsakar, menjelaskan dalam sambutannya, bahwa pembangunan bundaran tersebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun anggaran BP Batam. Proyek dibiayai melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Uma Graha Berkah sebagai bentuk kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.

Amsakar mengapresiasi partisipasi kalangan usaha yang mendukung penataan wajah Kota Batam. Kolaborasi itu dinilai membuka ruang bagi pembangunan infrastruktur publik tanpa menambah beban anggaran pemerintah.

Menurutnya, kota yang bersih, tertata, dan memiliki identitas menjadi salah satu faktor pendukung daya saing daerah.

Bukan “Dimakan” Rayap Besi Tulisan “Laluan Madani” Sengaja Dicopot untuk Dipercantik

“Presiden berulang kali mengingatkan agar kabupaten dan kota dirawat dengan baik. Jangan sampai kumuh, semrawut, dipenuhi reklame yang tidak tertata ataupun kabel yang mengganggu estetika kota,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum, menjadi awal penataan taman dan bundaran di sejumlah titik Kota Batam. Pemerintah ingin menghadirkan ruang publik yang tidak hanya indah, tetapi juga mencerminkan karakter daerah.

Menurut Amsakar, setiap elemen kota perlu memiliki identitas yang membedakan Batam dari daerah lain. Karena itu, penataan fisik dipadukan dengan penguatan nilai sejarah dan budaya Melayu. (ski)

Sumber: Kata Batam

Editor: Wetsi

Jangan Macam-macam, Li Claudia Kini Sudah Pasang CCTV di Terowongan Pelita

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement