Lonjakan Harga Bumbu Dapur di Sigi Jelang Ramadan, Pedagang Prediksi Kenaikan Berlanjut
SIGI – Memasuki periode menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, khususnya yang berbelanja di Pasar Ranggulalo, Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah komoditas bumbu dapur yang cukup mengkhawatirkan. Fenomena ini menjadi perhatian serius mengingat Ramadan biasanya identik dengan peningkatan aktivitas memasak dan kebutuhan rumah tangga.
Secara khusus, harga bawang merah dan bawang putih dilaporkan mengalami lonjakan signifikan, kini mencapai angka Rp40.000 per kilogram. Kenaikan ini cukup terasa dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya, menimbulkan beban tambahan bagi para ibu rumah tangga dan pengelola usaha kuliner.
Tidak hanya bawang, komoditas penting lainnya seperti cabai rawit juga turut mengalami kenaikan tajam, menyentuh harga Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, harga cabai keriting sedikit lebih terjangkau, yakni di kisaran Rp25.000 per kilogram. Di tengah kenaikan yang terjadi, harga tomat masih menunjukkan stabilitas, bertahan di angka sekitar Rp8.000 per kilogram, memberikan sedikit ruang lega bagi konsumen.
Bani (46), seorang pedagang yang telah lama berjualan di Pasar Ranggulalo, membenarkan adanya lonjakan harga yang ia amati. Ia mengungkapkan bahwa harga bawang merah dan bawang putih saja sudah melonjak dari kisaran Rp35.000 per kilogram pada minggu sebelumnya menjadi Rp40.000 per kilogram saat ini.
“Minggu lalu, bawang merah dan bawang putih masih di kisaran Rp35.000 per kilogram, namun sekarang sudah menyentuh Rp40.000 per kilogram,” ujar Bani pada Minggu (1/2/2026).
Lebih lanjut, Bani menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit juga tidak kalah dramatis. Jika pada minggu lalu harganya masih berkisar antara Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, kini konsumen harus merogoh kocek lebih dalam hingga Rp40.000 per kilogram.
Prediksi Kenaikan Berlanjut Akibat Permintaan Ramadan
Fenomena kenaikan harga bumbu dapur ini, menurut prediksi para pedagang, diperkirakan akan terus berlanjut seiring semakin dekatnya bulan Ramadan. Ramadan secara tradisional selalu memicu peningkatan permintaan terhadap berbagai bahan makanan, termasuk bumbu-bumbu dasar yang menjadi tulang punggung masakan sehari-hari.
Peningkatan permintaan ini seringkali tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai, sehingga menciptakan ketidakseimbangan pasar yang berujung pada kenaikan harga. Para pedagang di Pasar Ranggulalo pun merasakan dampak langsung dari fluktuasi ini, baik dalam hal perputaran barang maupun daya beli konsumen.
Imbauan bagi Masyarakat dan Antisipasi Pemerintah
Menyikapi kondisi ini, masyarakat dihimbau untuk lebih waspada terhadap pergerakan harga bahan pokok. Penting bagi para konsumen untuk melakukan pemantauan harga secara berkala di berbagai pasar tradisional maupun modern. Dengan memantau harga, konsumen dapat membuat perencanaan anggaran belanja yang lebih bijak dan menghindari pembelian impulsif yang dapat memberatkan keuangan rumah tangga.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:
- Membandingkan Harga: Jangan ragu untuk membandingkan harga di beberapa lapak atau pasar sebelum memutuskan untuk membeli.
- Membeli Sesuai Kebutuhan: Hindari membeli dalam jumlah berlebihan hanya karena takut harga akan semakin naik, kecuali jika memang stok di rumah sudah menipis dan harga masih dalam batas wajar.
- Mencari Alternatif: Jika memungkinkan, pertimbangkan penggunaan bumbu alternatif yang harganya lebih stabil atau mencari sumber pasokan yang lebih terjangkau.
- Menyiapkan Anggaran Khusus: Alokasikan dana khusus untuk kebutuhan pokok menjelang dan selama Ramadan agar pengeluaran tetap terkendali.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menstabilkan harga. Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain:
- Monitoring Pasokan: Melakukan pemantauan intensif terhadap ketersediaan pasokan bumbu dapur, terutama dari sentra-sentra produksi.
- Operasi Pasar Murah: Menggelar operasi pasar murah secara berkala di titik-titik strategis untuk menyediakan bahan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
- Fasilitasi Distribusi: Memastikan kelancaran distribusi barang dari produsen ke konsumen untuk menghindari penimbunan dan lonjakan harga yang tidak wajar.
- Koordinasi dengan Stakeholder: Berkoordinasi dengan para petani, pedagang besar, dan distributor untuk mencari solusi bersama dalam menjaga stabilitas harga.
Kenaikan harga bumbu dapur menjelang Ramadan memang menjadi isu klasik yang kerap dihadapi masyarakat. Namun, dengan kesadaran, perencanaan yang matang dari sisi konsumen, serta intervensi yang tepat dari pemerintah, diharapkan gejolak harga ini dapat diminimalisir dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.


Komentar