Beranda / Opini / Senar Putus & Cinta Fromm: Sebuah Opini

Senar Putus & Cinta Fromm: Sebuah Opini

Fragmen Jiwa yang Terenggut: Refleksi Mendalam atas Memoar “Broken Strings”

Ada ironi yang menusuk hati dalam judul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth”. Senar yang terputus bukan karena dimainkan dengan penuh gairah hingga usang, melainkan karena dipaksa menghasilkan melodi yang bukan miliknya. Memoar Aurelie Moeremans, yang dirilis secara gratis pada Oktober 2025 dan seketika menjadi viral di awal 2026, jauh melampaui sekadar kisah trauma personal. Ia adalah cerminan pedih tentang kegagalan masyarakat dalam melindungi generasi mudanya dari predator yang menyamar di balik kedok “cinta”.

Dalam kerangka pemikiran filsuf Erich Fromm, khususnya yang ia uraikan dalam “The Art of Loving” (1956), cinta sejati menuntut kematangan, tanggung jawab, dan yang terpenting, kesetaraan. Fromm dengan tegas menyatakan bahwa cinta bukanlah bentuk dominasi maupun ketergantungan patologis yang menyalahgunakan nama kasih sayang. Justru di titik inilah “Broken Strings” menemukan resonansi naratifnya yang menghancurkan: apa yang dialami Aurelie di usianya yang baru menginjak 15 tahun bukanlah cinta, melainkan sebuah sistem penghancuran diri yang dibungkus rapi dalam retorika romantis.

Kisah ini bermula dari kepindahan Aurelie dari Belgia ke Indonesia, seorang remaja yang tengah dalam pencarian jati diri dan validasi. Di sinilah ia bertemu dengan Bobby, sebuah nama samaran untuk seorang pria yang usianya hampir mencapai tiga dekade. Bobby dengan lihai mempraktikkan apa yang kini kita kenal sebagai child grooming—praktik manipulasi yang dirancang untuk merusak dan mengendalikan anak di bawah umur.

Aurelie merinci dengan detail yang mengerikan bagaimana manipulasi itu bekerja. Dimulai dengan perhatian yang tampak tulus, pujian yang membuatnya merasa istimewa, hingga secara perlahan mengisolasi Aurelie dari keluarga dan teman-temannya. Keunggulan psikologis memoar ini terletak pada kemampuan Aurelie untuk mempertahankan suara remaja 15 tahun yang ia miliki pada masa itu. Pembaca tidak disajikan narasi retrospektif dari seorang wanita dewasa yang bijak; sebaliknya, kita terperangkap dalam kebingungan seorang anak yang belum memiliki kosakata untuk memahami apa yang sedang terjadi padanya. Pilihan naratif yang berani dan menyakitkan ini memaksa kita menyaksikan bagaimana grooming bekerja dari dalam, tanpa filter pelindung kesadaran dewasa.

Fromm mengidentifikasi empat elemen fundamental dalam cinta yang matang: perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), penghormatan (respect), dan pengetahuan (knowledge). Hubungan antara Aurelie dan Bobby merupakan inversi sempurna dari keempat elemen ini. Terdapat “perhatian,” namun bersifat obsesif dan mengikat. Ada “tanggung jawab,” namun hanya sebagai alat kontrol. Hal yang sama sekali absen adalah penghormatan terhadap otonomi Aurelie sebagai individu dan kesetaraan pengetahuan. Bagaimanapun, bagaimana mungkin seorang anak berusia 15 tahun memiliki pengetahuan yang setara dengan seorang predator dewasa yang terlatih?

Aurelie secara gamblang menggambarkan mekanisme kontrol yang digunakan Bobby. Ini mencakup kekerasan verbal yang merusak harga diri, isolasi sosial yang membuat korban sepenuhnya bergantung pada pelaku, manipulasi emosional melalui siklus “luka-lalu-sembuhkan” (hurt-then-heal), hingga kekerasan fisik dan seksual yang dinormalisasi sebagai bagian dari “hubungan”. Yang paling mencekik adalah bagaimana Bobby menggunakan bahasa cinta untuk membungkus setiap tindakan destruktifnya. Frasa “Ini karena aku sayang padamu” menjadi mantra pembenaran untuk setiap bentuk penganiayaan.

Dinamika Kekuasaan dan Manipulasi

Fromm membedakan antara cinta yang matang dengan apa yang ia sebut sebagai “penyatuan simbiotik” (symbiotic union), sebuah penyatuan tidak sehat di mana satu pihak “menelan” yang lain. Dalam bentuk sadis, seseorang mendominasi dan mengontrol; dalam bentuk masokis, seseorang kehilangan diri sepenuhnya dalam diri yang lain. Hubungan Aurelie-Bobby menjadi studi kasus sempurna dari dinamika sadis-masokis ini, diperparah oleh ketimpangan usia dan kekuasaan yang ekstrem.

Dari perspektif sastra, “Broken Strings” menolak estetisasi trauma. Tidak ada prosa puitis yang mengaburkan kenyataan, tidak ada metafora indah yang membuat kekerasan tampak artistik. Bahasa Aurelie tegas, langsung, bahkan terkadang terasa mentah, dan justru itulah yang membuatnya efektif. Ia menulis dengan jujur tentang kebingungannya, tentang momen-momen ketika ia hampir percaya bahwa ini memang cinta, tentang rasa malu yang membuatnya memilih diam selama bertahun-tahun.

Struktur memoar ini mengikuti pola siklus kekerasan yang umum dikenal: pembangunan ketegangan (tension building), kekerasan akut (acute violence), fase bulan madu (honeymoon phase), dan pengulangan. Pembaca merasakan kelelahan yang sama dengan korban setiap kali tampak ada secercah harapan untuk keluar, hanya untuk melihat siklus berulang dengan intensitas yang lebih besar. Ini bukanlah narasi yang memuaskan dengan lengkungan cerita tradisional; ini adalah dokumentasi ketahanan hidup.

Misi Edukasi dan Pemberdayaan

Yang membuat buku ini penting secara sosial adalah konteks perilisannya. Aurelie memilih untuk membagikan memoarnya secara gratis, dalam dua bahasa, melalui media sosial. Ini bukan tentang profit, melainkan tentang edukasi dan pemberdayaan. Ia ingin setiap remaja, setiap orang tua, setiap pendidik memahami bagaimana grooming bekerja, agar tidak ada lagi “Aurelie-Aurelie” lain yang terperangkap dalam jaring yang sama.

Fromm pernah menulis bahwa cinta yang tidak matang berkata, “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu,” sementara cinta yang matang berkata, “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.” Bobby jelas berada dalam kategori pertama, bahkan lebih jauh lagi, ia bahkan tidak mencintai Aurelie sebagai manusia utuh, melainkan sebagai objek untuk dikendalikan, dimiliki, dan dihancurkan sesuai keinginannya.

Viralnya buku ini di awal 2026 memicu kontroversi, terutama spekulasi mengenai identitas Bobby. Namun, fokus pada identitas pelaku justru mengaburkan pesan inti. Ini bukan tentang siapa Bobby sebagai individu, melainkan tentang sistem sosial yang memungkinkan Bobby-Bobby lain eksis dan beroperasi dengan impunitas. Ini tentang budaya yang meromantisasi perbedaan usia yang besar dalam hubungan, yang melihat kontrol sebagai “perhatian”, yang mengajarkan anak perempuan bahwa cinta harus menyakitkan untuk menjadi nyata.

“Broken Strings” adalah pengingat brutal bahwa grooming bukanlah anomali langka; ia adalah pola sistematis yang digunakan oleh predator di mana-mana. Dalam era digital ini, teknik-tekniknya bahkan lebih mudah diterapkan. Media sosial menyediakan akses, normalisasi hubungan online menurunkan kewaspadaan, dan budaya visual mempermudah manipulasi citra diri.

Jalan Menuju Pemulihan dan Kebenaran

Memoar ini juga berbicara tentang pemulihan, meskipun tidak dengan cara yang romantis. Aurelie jujur bahwa trauma tidak “sembuh” dalam arti kembali seperti semula; senar yang putus tidak bisa disambung dengan sempurna lagi. Namun, ada jenis kekuatan lain yang tumbuh: kesadaran, batas yang lebih kuat, kemampuan untuk membedakan cinta sejati dari manipulasi yang diberi label cinta.

Fromm menulis bahwa tugas terbesar manusia adalah melahirkan dirinya sendiri, untuk menjadi apa yang secara potensial ia bisa menjadi. “Broken Strings” adalah kisah tentang proses kelahiran kembali yang menyakitkan ini—bagaimana Aurelie, setelah hampir sepenuhnya dihancurkan, belajar menemukan kembali dirinya yang sejati, bukan versi yang dibentuk oleh pelaku.

Buku ini layak dibaca, bukan untuk memuaskan voyeurisme, melainkan sebagai sebuah pendidikan yang mendesak. Setiap orang tua harus membacanya untuk memahami tanda-tanda grooming. Setiap remaja harus membacanya untuk belajar membedakan perhatian sejati dari manipulasi. Setiap dari kita harus membacanya untuk memahami bahwa melindungi anak bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi kewajiban kolektif.

Yang paling penting: “Broken Strings” menjadi alarm bagi kita bahwa ketika seorang anak berkata ia “jatuh cinta” dengan orang dewasa yang jauh lebih tua, ini bukanlah kisah romansa. Ini adalah red flag darurat yang membutuhkan intervensi, bukan validasi. Senar yang putus bisa menghasilkan suara lagi; mungkin tidak sama, mungkin dengan nada yang berbeda, tetapi tetap bisa bermakna. Aurelie Moeremans membuktikan hal ini dengan berani memilih untuk berbicara, untuk menulis, untuk menolak diam. Memoarnya adalah tindakan perlawanan terhadap budaya yang masih terlalu sering menyalahkan korban dan melindungi pelaku. Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling sejati menurut Fromm: keberanian untuk berdiri pada kebenaran, bahkan ketika itu menyakitkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement