MetroNews.co.id, Batam– Untuk memeriahkan Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada September 2026, mulai Senin hingga Sabtu (21–26/9/2026), Pemko Batam mengajak pegawai pemerintah hingga swasta, mengenakan baju Melayu selama jam kerja.
Baju Melayu yang sering kita kenakan saat ini bukan sekadar pakaian tradisional. Di balik desainnya yang anggun tersimpan makna agama yang mendalam, diwariskan sejak lebih dari 700 tahun lalu.
Menurut sejarah, desain baju Melayu, khususnya pria, mulai diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah, sultan ketiga Kesultanan Melayu Melaka (1424–1444).
Baginda menginginkan satu busana resmi kerajaan yang tidak hanya menonjolkan keagungan, tetapi juga membawa nilai-nilai Islam.
Baju Melayu yang paling dikenal adalah jenis cekal musang. Ciri paling mencolok adalah lima kancing di bagian depan baju. Setiap kancing melambangkan lima rukun Islam:
- Dua kalimat Sahadat
- Salat lima waktu
- Puasa di bulan Ramadan
- Menunaikan zakat
- Naik haji bagi yang mampu
Sementara tiga saku yang terdapat pada baju Melayu mewakili tiga hal pokok dalam agama:
- Akidah atau kepercayaan
- Islam
- Ihsan
Adapun kain samping (sampin) yang dililit di pinggang juga bukan sekadar hiasan. Fungsinya adalah menutup aurat dan menjaga kehormatan. Bagi pria yang sudah menikah, mengenakannya bersifat wajib. Sedangkan bagi yang masih lajang, hukumnya sunah.
Ada juga baju Melayu versi satu kancing, namanya teluk belanga, membawa pesan tauhid yang paling mendasar — keyakinan bahwa Tuhan itu satu.
Begitulah kedalaman budaya Melayu. Setiap jahitan, setiap kancing, dan setiap saku bukan sekadar estetika, melainkan pengingat senyap tentang identitas, iman, dan warisan yang perlu terus dihargai. (ski)
Sumber: Kata Batam
Editor: Wetsi


Komentar